Senin, 29 Oktober 2012

Hadis Shidq 2


Hadis Yakin Sebagai Landasan Perbuatan

عَنْ أبي مُحَمَّدٍ الْحَسنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أبي طَالِبٍ، رَضيَ اللَّهُ عَنْهما، قَالَ حفِظْتُ مِنْ رسولِاللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: "دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَريبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمأنينَةٌ، وَالْكَذِبَ رِيبةٌ" رواه التِرْمذي وَقالَ: حديثٌ صحيحٌ.

Arinya: dari Abu Muhammad al-Hasan bin 'Ali bin Abi Tholib RA, berkata: "Saya menghafal sabda dari Rasulullah SAW: "Tinggalkan apa-apa yang menyangsikan hatimu -yakni jangan terus dilakukan- dan berpindahlah kepada apa-apa yang tidak menyangsikan hatimu -yakni yang hatimu tenang jikalau melakukannya-. Maka sesungguhnya bersikap benar itu adalah ketenangan dan berdusta itu menyebabkan timbulnya kesangsian".
Diriwayatkan Imam Tirmidzi dan berkata bahawa ini adalah Hadis Shahih.

Menurut sebagian ulama: Allah SWT telah menginforamsikan bahwa hati seorang yang beriman dengan sempurna memiliki jiwa yang suci dan bersih dari sifat-sifat yang buruk. Maka ia akan selalu condong dan tenang akan ucapan dan perbuatan yang sempurna, dan menjauhi perkara yang tidak sempurna. Hal inilah yang menjadi isyarat dari Allah SWT. Maka ia akan melaksanakan hal sempurna secara langsung, dan berpaling dengan seketika dari hal yang tidak sempurna.

Dalam riwayat Imam Malik dari jalur sahabat Abu Hurairoh dengan Sanad yang Dloif: Nabi SAW berkata kepada seorang sahabta: "Tinggalkan apa-apa yang menyangsikan hatimu -yakni jangan terus dilakukan- dan berpindahlah kepada apa-apa yang tidak menyangsikan hatimu -yakni yang hatimu tenang jikalau melakukannya-." Lalu ia bertanya kepada Nabi SAW: bagaimana saya dapat mengetahui hal tersebut? Nabi SAW menjawab: jika engkau menginginkan sesuatu, maka letakkan tanganmu di atas dadamu! Ia akan berdetak kencang jika menghadapi perkara yang haram, dan akan terasa tenang jika menghadapi perkara yang halal. Seorang muslim yang wira'i akan selalu meninggalkan dosa kecil karena khawatir terjerumus pada dosa besar.

Dari tinjauan Fiqh Syariah, perintah untuk meninggalkan perkara yang diragukan hanya sebatas kesunnahan yang dianjurkan, dan tidak sampai pada tingkatan wajib. Karena menjauhi perkara yang syubhat dihukumi Sunnah, menurut pendapat yang lebih tepat.

Dari hadis ini pula, dapat ditarik satu kaidah Ushul Fiqh:

أَنَّ الشَّيْءَ الَّذِيْ تَشُكُّ فِيْهِ، اتْرُكْهُ إِلى شَيْءٍ لاَ شَكَّ فِيْهِ

anna al-syai'a al-ladzi tasyukku fihi, utrukhu ila syai'in la syakka fihi.
            Artinya: tinggalkan perkara yang meragukanmu dan lakukan perkara yang tidak engkau ragukan.

Dalam ibadah praktis, jika seseorang ragu dalam jumlah roka'at, apakah ia sudah melaksanakan 2 roka'at atau 3? Jika ia memilih 2 roka'at, ia tetap ragu (kalau-kalau solatnya tidak sempurna jumlah roka'atnya). Dan jika ia memilih 3 roka'at, ia juga tetap ragu (kalau-kalau jumlah roka'atnya tidak kurang), tapi tetap merasa khawatir. Maka, sebaiknya ia mengambil pilihan yang tidak ada keraguan, yaitu memilih jumlah roka'at yang lebih sedikit.

Dan dalam tinjauan pendidikan kejiwaan, bahwa ketika seseorang muslim merasakan ketenangan, ia tidak akan kekhawatiran. Karena pada umumnya, manusia selalu merasa ragu dalam melakukan sesuatu, hatinya berbisik: "haruskah saya lakukan" atau "apakah harus saya tinggalkan". Dan jika keraguan tersebut dapat disingkirkan, maka semua itu akan sirna. Inilah yang menjadi landasan dari sabda Nabi SAW: " Maka sesungguhnya bersikap benar itu adalah ketenangan".

Maka, dari hadis ini dapat kita ambil pelajaran berharga:
1 – Anjuran untuk meninggalkan perkara yang syubhat. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: "Barangsiapa yang meninggalkan perkara yang syubhat, maka ia telah menjaga agama dan harga dirinya".
2 – Petunjuk agar berhati-hati dalam beragama, yaitu dengan memilih perkara yang dapat menenangkan jiwa.
3 – Kasih sayang Allah SWT terhadap hambanya, dengan memberikan perintah akan perkara yang menenangkan jiwa dan melarang perkara yang dapat menimbulkan kekhawatiran.
4 – Sistem pendidikan Nabi SAW terhadap anak-anak, dengan selalu menanamkan nilai kebaikan dalam jiwa agar mereka tumbuh kembang di kelilingi akhlaq karimah.
5 – Seorang muslim sejati selalu merasakan kekhawatiran ketika dihadapkan dengan perkara yang tidak baik, sedangkan seorang yang berdosa akan merasa nyaman dengan perkara yang tidak baik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar