Takbir
Pengucapan, Perenungan dan Pengamalan
Khutbah Ied Adha disampaikan di
Masjid Jama'ah
Perumahan Griya Asri I – Blok C, Tambun
- Bekasi
Oleh: Fatihunnada Anis Basyir Zaenal
Muhtarom
Perum Papan Mas, Blok C 7, No: 03,
Tambun Selatan - Bekasi
Ahad,
06 – November – 2011 M
10 – Dzulhijjah – 1432 H
KHUTBAH
PERTAMA
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
الله أكبر، الله أكبر،... الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر،...
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر،...
الله أكبر ما تحركت قلوب الحجاج إلى بيت الله الحرام، الله
أكبر ما كبروا ولبّوا ولبسوا ثياب الإحرام، الله أكبر ما طافوا بالكعبة واستعملوا
الحجر الأسود ففازوا بالطواف والاستلام، الله أكبر ما سعوا بين الصفا والمروة
وشربوا ماء زمزم وصلوا خلف المقام، الله أكبر ما وقفوا بعرفة وباتوا بمزدلفة
وذكروا الله عند المشاعر العظام.
الحمد لله حمد كثيرا كما أمر. نحمده سبحانه وتعالي الذي جعل الخليل
إبراهيم إماما لنا ولسائر البشر. أشهد أن لا إله الا الله وحده لا شريك له الملك الجبار، وأشهد أن محمدا عبده
ورسوله المبعوث للناس لينقذهم من كيد الشيطان وينجيهم من عذاب النار. اللهم صل وسلم
وبارك على سيدنا محمد المختار و على آله الأطهار وأصحابه الأخيار.
أما بعد. فيا عباد الله اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا و أنتم
مسلمون. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً
سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ
يُطِعْ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر،... الله أكبر، ولله
الحمد،... عباد الله:
Alangkah bahagianya,
kita dapat bertemu kembali dengan hari-hari yang sangat dicintai oleh Allah SWT
ini. Hari-hari yang biasa kita sebut pula dengan hari "Takbir",
karena selama lima hari berturut-turut umat Islam mengumandangkan Takbir kepada
Allah SWT atas segala petunjuk yang telah Allah SWT berikan sebagai rasa
syukur. Allah SWT menganjurkan hambanya untuk melafalkan Takbir di berbagai
waktu, khususnya setelah setiap melaksanakan solat lima waktu, yang dimulai
sejak Subuh hari 'Arafah hingga waktu 'Ashar hari ke-empat 'Ied Adha.
Lafazh Takbir yang
paling pokok adalah kalimat " اللهُ أَكْبَرُ ", serta berbagai Kalimat-kalimat
Thoyibah lainnya. Akan tetapi, arti serta pengaruh kalimat-kalimat ini
terasa hilang dari dalam jiwa umat Islam, meskipun sering diucapkan. Hal ini
dikarenakan minimnya perenungan serta penghayatan terhadap arti dari kalimat-kalimat
tersebut, bahkan tidak adanya pemahaman yang cukup terhadap kandungan Kalimat-kalimat
Thoyibah tersebut mengakibatkan kehampaan dari gema Takbir.
Sebagai
contoh ringan, kalimat " اللهُ أَكْبَرُ ". kalimat inilah yang telah
Allah SWT rumuskan terhadap Nabinya Muhammad SAW ketika memerintahkannya untuk
memberi peringatan kepada manusia, sebagai mana firman Allah SWT dalam surat
al-Mudatsir, ayat 1 – 3:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ
(١) قُمْ فَأَنْذِرْ (٢) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (٣)
Artinya:
1. Hai orang yang berkemul (berselimut), 2. bangunlah, lalu berilah peringatan!
3. dan Tuhanmu agungkanlah!
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر،...
الله أكبر، ولله الحمد،... عباد الله رحمكم الله:
Sebagai kaum muslimin, kita selalu mengulang-ulang
kalimat ini tak kurang dari seratus tujuh puluh kali setiap hari dalam solat
wajib. Dan seandainya kita teliti dan mencari-cari pengaruh kalimat tersebut
dalam jiwa serta prilaku umat Islam, pasti kita dapatkan sedikit sekali bahkan
tidak ada sama sekali. Padahal Allah SWT mensyariatkan diucapkannya kalimat
tersebut secara berulang-ulang dalam azan, solat dan lainnya; agar dalam setiap
waktunya, umat Islam selalu tergugah hati mereka serta menyadari benar-benar
bahwa mereka adalah hamba Allah SWT; dan juga agar orang yang lalai menjadi
ingat kembali akan Tuhyannya; agar orang yang tersesat mendapat petunjuk; agar
orang yang berbuat jahat terhalang untuk mengulanginya; dan agar orang yang
berbuat baik semakin bertambah kebaikannya.
kalimat " اللهُ أَكْبَرُ " merupakan penggilan dari
langit kemudian selalu diulang-ulang kembali pengucapannya oleh penduduk bumi
sebagai pengingat akan keagungan Allah SWT, kebesaranNya, kerajaanNya dan
kekuasaanNya. Maka dengan kalimat tersebut, akan tergugahlah orang-orang yang
takut kepada Allah SWT dengan selalu berdzikir akanNya. Maka ia-pun akan
pandai-pandai mengaplikasikan kalimat tersebut dengan benar.
Seandainya
ia memiliki kecukupan harta dan tahta, dengan mengumandangkan kalimat " اللهُ أَكْبَرُ ", maka ia menyadari betul
bahwa Allah SWT adalah Zat yang Maha Kaya dan Ialah yang dapat menjadikan
seseorang kaya, ia menyadari pula bahwa Allah SWT adalah sumber segala nikmat,
Dialah Zat yang memberi serta mencegah nikmat. Maka tidaklah ia akan terlena
dengan kekayaannya. Akan tetapi, ia selalu mernungi firman Allah SWT dalam
surat al-Kahfi, ayat 46:
الْمَالُ وَالْبَنُونَ
زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ
رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلاً
Artinya:
harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang
kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik
untuk menjadi harapan.
Dan
seandainya ia seorang yang tidak memiliki kecukupan harta, dengan
mengumandangkan kalimat " اللهُ أَكْبَرُ ", maka kemiskinannya tidak
serta membuatnya rendah dan hina. Dan juga tidak akan menjadikannya goyah dari
imannya kepada Allah SWT. Akan tetapi, ia akan selalu mengingat Allah SWT yang
Maha Tinggi dan Maha Besar. Dan ia meyakini bahwa Allah SWT bisa menjadikan
mulia seorang yang faqir, sebagaimana janji Allah SWT dalam firmanNya, surat
al-Taubah, ayat 28:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلا يَقْرَبُوا
الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ
يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِنْ شَاءَ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu
najis[634], Maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam[635] sesudah tahun
ini[636]. dan jika kamu khawatir menjadi miskin[637], Maka Allah nanti akan
memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya
Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Seandainya ia dalam keadaan sehat, dengan mengumandangkan
kalimat " اللهُ أَكْبَرُ ", maka tidaklah ia
akan merasa sombong dengan kekuatannya karena ia menyadari bahwa Allah SWT yang
memberi kesehatan, maka Allah SWT juga bisa mencabutnya dan menggantikannya
dengan sakit. Serta ia menyadari bahwa kekuatan fisik tidaklah berarti apa-apa
tanpa adanya kekuatan akal dan ketenangan hati. Sebagaimana sabda Rosulullah
SAW, yang diriwayatkan Imam al-Bukhori dalam Shohih al-Bukhori 8/28 (6114) dan
Imam Muslim dalam Shohih Muslim 4/2014 (2609):
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ،
إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ. (متفق عليه).
Artinya: dari Abu Hurairah RS, bahwasanya Rasulullah SAW
bersabda: "bukanlah orang kuat yang selalu mengalahkan lainnya dengan
kekerasan, akan tetapi orang yang mampu menahan amarahnya".
Dan seandainya ia dalam keadaan sakit, dengan
mengumandangkan kalimat " اللهُ أَكْبَرُ ", maka kalimat
tersebut akan mengingatkannya bahwa Allah SWT adalah tempat berharap dan tempat
mengadu, sebagaimana penegasan Allah SWT dalam firmannya, surat al-Syura, ayat
80:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ
يَشْفِينِ
Artinya: dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan
Aku.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر،...
الله أكبر، ولله الحمد،... عباد الله رحمكم الله:
Marilah kita tengok sejenak suatu kisah dari sejatinya
tokoh-tokoh Islam yang benar-benar mengaplikasikan kalimat Takbir dalam
kehidupan sehari-hari, dan kemudian kita dapat mencontoh dan mengambil teladan
dari derap dan langkah serta sikap mereka.
Inilah, Nabi Ibrahim AS, sebagai panutan ayah-ayah masa
kini. Ia amat mencintai anak dan istrinya, tetapi cintanya kepada Allah SWT
berada di atas segala-galanya. Karena itu, ia rela mengorbankan apa saja,
bahkan mengorbankan putranya sendiri sekalipun, halitu semua hanya lantaran
untuk memenuhi panggilan Allah SWT.
Siti Hajar sebagai seorang istri dan ibu yang amat kuat
imannya dan setia kepada suami serta cinta kasih sayang kepada putranya. Tiadalah
duka baginya ketika suaminya Nabi Ibrahim AS meninggalkannya seorang diri di
gurun Sahara dan merelakannya pergi untuk memenuhi panggilan Allah SWT.
Ibu yang demikian, sudah sepantasnya diteladani oleh para
ibu masa kini. Karena ibu merupakan tongkak penentu keberhasilan suatu bangsa,
peranannya sangat penting dalam membentuk watak yang baik, dan ibu jula yang
menentukan watak suatu bangsa di kemudian hari, sebagaimana telah ditegaskan
dalam salah satu kata mutiara Arab:
الأُمُّ أُسْتِاذُ الْأَسَاتِذَةِ الْأُوْلىَ - شَغَلَتْ مَآثِرُهُمْ
مَدَى الْآفَاقِ
Artinya: Ibu adalah guru pertama dari semua guru
Pengaruhnya memenuhi setiap penjuru
Tak lupa kita perhatikan sejenak, tokoh Nabi Isma'il AS. Ialah
seorang anak yang harus ditiru oleh para remaja kita dewasa ini. Untuk mewujudkan
taqwanya kepada Allah SWT dan baktinya kepada orang tua, ia rela mengorbankan
nyawanya terpisah dengan raganya. Seandainya pemuda-pemudi suatu bangsa bisa
benar-benar mengikuti tata cara hidup Nabi Isma'il AS, niscaya bangsa itu akan
mendapatkan kemakmuran yang melimpah dan tak akan padam api kejayaan bangsa
tersebut. Sebagaimana dinyatakan oleh Syauqi Bek, seorang pemikir arab:
إِنَّ فِي يَدِّ الشَّبّابِ أَمْرَ الأُمَّةِ، وَفِيْ أَقْدَامِهِمْ
حَيَاتَهَا
Sesungguhnya di tangan para pemuda-lah kemakmuran dan
kehidupan suaatu bangsa.
Hanya dengan memahami lebih dalam kandungan kalimat " اللهُ أَكْبَرُ " inilah dan
mengaplikasikannya dalam bentuk nyata, maka pengorbanan yang besar ini bisa
terjadi, sebagaimana yang telah diaplikasikan oleh ketiga tokoh besar dalam
sejarah Islam ini, dan selanjutnya kebahagiaan-pun akan dapat diraih. Karena Allah
SWT telah menegaskan dalam firmannya, surat Ali 'Imron, ayat 92:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا
مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Artinya:
kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan
Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر،...
الله أكبر، ولله الحمد،... عباد الله رحمكم الله:
Akhirnya, dalam khutbah kali ini, kami mengajak diri kami
sendiri dan kaum Muslimin hadirin jama'ah Solat 'Ied Adha untuk senantiasa
mengucap kalimat " اللهُ أَكْبَرُ " dengan penuh
pemahaman yang mendalam, perenungan khusyu' serta pengaplikasiannya dalam
kehidupan sehari-hari. Sehingga kita bisa sama-sama memetik buah yang telah
Allah SWT sediakan. Manakala godaan syaitan datang kepada kita untuk mengikuti
hawa nafsu, maka hendaklah kita ucap kalimat
" اللهُ أَكْبَرُ ".
Manakala datang kebaikan serta nikmat yang teramat indah, maka hendaklah
kita ucap kalimat " اللهُ أَكْبَرُ ". Supaya kita bisa
sama-sama meneladani Nabi Ibrahim AS sebagai ayah, siti Hajar sebagai istri dan
Nabi Isma'il AS sebagai anak. Dan dengan demikian kita bisa menjadikan
masyarakat kita penuh barokah serta rahmat dari Allah SWT.
Mudah-mudahan dengan mengucapkan, merenungkan serta
mengamalkan kalimat " اللهُ أَكْبَرُ " kita dapat
memperteguh Iman dan Islam di dalam hati dan memberikan pengorbanan yang luar
biasa untuk agama Allah SWT. Amin ya Robb.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا إِبْراَهِيْمَ،
وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعلَىَ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا
بَارَكْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ،
في العالمين إِنَّكَ حَمِيْد ٌمَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ
سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
Ya Allah,
ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang
masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha
Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Ya Allah,
anugerahkanlah kepada kami
kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka .
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ
لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَئِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar