Sabtu, 27 Oktober 2012

Hadis Shidq 1


Hadis Sifat Shidq (Kebenaran) dan Kadzib (Kebohongan)



عَن ابْنِ مَسْعُودٍ رضي اللَّه عنه عن النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ: "إِنَّ الصَّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ ليصْدُقُ حَتَّى يُكتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقاً، وإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفجُورِ وَإِنَّ الفجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّاباً". متفقٌ عَلَيهِ.

Arinya: dari Ibnu Mas'ud RA, dari Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya kebenaran - baik yang berupa ucapan atau perbuatan - itu menunjukkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke syurga dan sesungguhnya seseorang itu niscaya melakukan kebenaran sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang ahli melakukan kebenaran. Dan sesungguhnya berdusta itu menunjukkan kepada kecurangan dan sesungguhnya kecurangan itu menunjukkan kepada neraka dan sesungguhnya seseorang itu nescaya berdusta sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang ahli berdusta. (Muttafaq 'alaih).

Menurut al-'Allamah Ibnu Abi Syarif dalam "Hawasyi Syarh al-'Aqoid": Kaum Sufistik memaknai Shidq dengan arti keseimbangan antara perkara yang nampak dan tersimpan. Artinya, perbuatan seharusnya tidak memperdayai isi hati, begitu-pula sebaliknya.
Wahbah al-Zuhaili berpendapat: Shidq adalah menegakan agama dan syariat Allah, melaksanakan perintahNya serta mengikuti Rasulullah SAW.
Syeikh Zakaria dalam "Syarh Risalah al-Qusyairiyah" menceritakan: al-Juneid pernah ditanya tentang Ikhlas dan Shidq, apakah keduanya sama atau berbeda? Lalu beliau menjawab: diantara keduanya terdapat perbedaan, Shidq adalah pokok dan Ikhlas adalah cabangnya.


Lebih jauh mengomentari hadis di atas, Imam al-Qurtubi dalam "al-Jami' li Ahkam al-Qur'an" 8/288 berkata: bagi setiap manusia yang memahami Allah SWT, seharusnya dituntut untuk selalu berkata jujur dalam ucapan, menanamkan ikhlas dalam perbuatan serta membersihkan hati dalam sikap. Maka ia dapat meraih keridloan Allah SWT.
Sedangkan kebohongan merupakan kecacatan bagi pelakunya, yang dapat mempengaruhi kredibilitasnya. Syarik bin 'Abdillah seorang Atba' Tabi'in (177 H) suatu hari ditanya: wahai Abu 'Abdillah, apakah aku boleh solat di belakang (menjadi makmum) seseorang yang pernah berbohong dengan sengaja? Ia menjawab: "tidak boleh".
Allah SWT memerintahkan dengan jelas dalam surat al-Taubah, Ayat 119:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.

Maka menurut Ibnu Mas'ud: kebohongan tidak dapat dilakukan – baik dengan sengaja ataupun main-main. Tidak ada toleransi dalam kebohongan.
Namun menurut sebagian besar Ulama: kebohongan hanya diperbolehkan dalam 3 hal:
1 – Untuk meraih kemenangan dalam peperangan.
2 – Untuk mendamaikan pertikaian antara manusia.
3 - Ucapan suami yang tidak jujur kepada istri untuk membahagiakannya. Seperti: "engkau adalah wanita terindah" atau "engkau adalah wanita yang paling aku cinta".
Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan sebuah hadis dalam "Musnad Ahmad" 45/550-551 (27570) tentang hal ini:

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ، أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَقُولُ: أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَا يَحْمِلُكُمْ عَلَى أَنْ تَتَابَعُوا فِي الْكَذِبِ كَمَا يَتَتَابَعُ الْفَرَاشُ فِي النَّارِ كُلُّ الْكَذِبِ يُكْتَبُ عَلَى ابْنِ آدَمَ إِلَّا ثَلَاثَ خِصَالٍ رَجُلٌ كَذَبَ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا، أَوْ رَجُلٌ كَذَبَ فِي خَدِيعَةِ حَرْبٍ، أَوْ رَجُلٌ كَذَبَ بَيْنَ امْرَأَيْنِ مُسْلِمَيْنِ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمَا.

Artinya: dari Asma' binti Yazid, bahwa ia mendengar Rasulullah SAW menyampaikan khutbah: wahai orang-orang yang beriman, apa yang mendorong kalian ikut-ikutan berdusta sebagaimana anai-anai berebut ke api?! setiap kebohongan yang dilakukan oleh seseorang selalu dituliskan sebagai dosanya, kecuali kebohongan yang dilakukan seseorang terhadap istrinya dengan maksud untuk menyenangkan hatinya atau kebohongan seorang lelaki sebagai tipu muslihat dalam peperangan, atau kebohongan untuk mendamaikan dua orang yang bersengketa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar